Yayasan Bintang Kidul https://id.yayasanbintangkidul.or.id Website Resmi Yayasan Bintang Kidul Tue, 30 Dec 2025 03:49:11 +0000 id-ID hourly 1 https://wordpress.org/?v=5.6.21 https://id.yayasanbintangkidul.or.id/wp-content/uploads/2017/09/cropped-BintangKidul-150x150.jpg Yayasan Bintang Kidul https://id.yayasanbintangkidul.or.id 32 32 Yayasan Bintang Kidul, Menyusut Asa Anak-anak Kurang Mampu, Meraih Harapan hingga ke Eropa https://id.yayasanbintangkidul.or.id/2025/12/30/yayasan-bintang-kidul-menyusut-asa-anak-anak-kurang-mampu-meraih-harapan-hingga-ke-eropa/ https://id.yayasanbintangkidul.or.id/2025/12/30/yayasan-bintang-kidul-menyusut-asa-anak-anak-kurang-mampu-meraih-harapan-hingga-ke-eropa/#respond Tue, 30 Dec 2025 03:41:29 +0000 https://yayasanbintangkidul.or.id/?p=1972 Yayasan Bintang Kidul. Kegiatan rutin anak-anak beasiswa Yayasan Bintang Kidul.

Yayasan Bintang Kidul. Kegiatan rutin anak-anak beasiswa Yayasan Bintang Kidul.(Instagram/bintangkidul)

KOMPAS.com – Berawal dari kepedulian sekelompok orang, Yayasan Bintang Kidul kini menjelma menjadi wadah untuk memberdayakan anak-anak dan remaja dari kalangan tidak mampu. Melalui program pemberdayaan, yayasan ini mendorong para remaja agar mampu membangun masa depan yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga, dan komunitas. Yayasan ini mulai beraktivitas sejak 2010 dan resmi berdiri pada 2016 setelah memperoleh legalitas dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham). Pendirinya adalah Tri Sugiharto, seorang warga Yogyakarta.

Sejak saat itu, berbagai programnya telah memberi dampak signifikan di berbagai daerah.

Upaya memberdayakan anak-anak pemulung

Yayasan Bintang Kidul menyediakan beasiswa bagi anak-anak dari keluarga yang hidup dalam kemiskinan ekstrem, mulai dari jenjang SD, SMP, SMA/SMK, sekolah vokasi, hingga universitas. Ada juga beasiswa pelatihan, les privat, serta sekolah khusus bagi anak-anak yang memiliki kesulitan luar biasa dalam belajar. Manajer Operasional Yayasan Bintang Kidul Muhammad Habib Saifullah menjelaskan, yayasan ini awalnya berfokus pada pendampingan di daerah Kampung Pemulung, Jakasampurna, Bekasi Barat. “Awalnya kami melakukan pendampingan terhadap anak-anak dan remaja di daerah Kampung Pemulung, di Tarumajaya, Bekasi Barat, melalui kegiatan literasi, kesenian, dan olahraga,” ujar pria yang akrab disapa Ipung ini kepada Kompas.com, Sabtu (16/8/2025). “Nah, lalu dari kegiatan-kegiatan itu, kemudian kami tawarkan untuk beasiswa,” tambahnya.

Awalnya, kegiatan pendampingan Yayasan Bintang Kidul dilakukan di lingkungan anak-anak pemulung. Namun, demi efektivitas program, sebagian anak difasilitasi untuk melanjutkan pendidikan di Yogyakarta. Program Yayasan Bintang Kidul bahkan telah berkembang hingga ke wilayah Sumatera. Kini, Yayasan Bintang Kidul telah berkembang tidak hanya di Bekasi, tetapi juga di beberapa kota lain, termasuk Sumatera Barat (Bintang Harau di Harau, Bintang Kurenah di Payakumbuh, Bintang Saiyo di Padang), Lampung (Bintang Kotabumi), dan Jakarta (10 Bintang). Selain itu, di Jogja terdapat Bintang Opak, Bintatang Kali, Bintang Watu Gilang, serta kantor pusat Yayasan Bintang Kidul. Ini semuanya terletak di desa-desa kecil, di selatan dan timur Yogyakarta.

Simbol harapan dan cita-cita anak binaan

Anak-anak Yayasan Bintang Kidul kali ini berkesempatan buat berkolaborasi bareng komunitas-komunitas di Jogja, ada Temu Buku Berjalan, Metafor.id, dan Deepublish Store, salah satu penerbit buku di Jogja.

Anak-anak Yayasan Bintang Kidul kali ini berkesempatan buat berkolaborasi bareng komunitas-komunitas di Jogja, ada Temu Buku Berjalan, Metafor.id, dan Deepublish Store, salah satu penerbit buku di Jogja.(Instagram/bintangkidul)

Nama setiap program di Yayasan Bintang Kidul selalu diawali dengan kata “bintang”. Kata Ipung, pemilihan nama ini bukan tanpa alasan. Bintang melambangkan harapan agar anak-anak binaan dapat bersinar, berprestasi, dan menemukan jalan hidupnya. Hal ini sejalan dengan tujuan yayasan yang berkomitmen mendampingi anak-anak dan remaja dalam meraih mimpi. “Tujuan besar kami adalah mendampingi anak-anak dan remaja untuk mencapai mimpi dan cita-cita mereka, serta memiliki kehidupan yang lebih baik bagi diri mereka sendiri dan komunitas sekitar,” ujarnya. Dengan begitu, bintang menjadi simbol cita-cita dan harapan yang ingin diwujudkan bersama.

Ragam program dan aktivitas di Yayasan Bintang Kidul

Yayasan Bintang Kidul memiliki dua program utama, yaitu pendampingan melalui olahraga, serta pendampingan melalui kegiatan belajar dan kesenian. Untuk bidang olahraga, yayasan mengembangkan program bulu tangkis yang bekerja sama dengan Solibad (Solidarity and Badminton) dari Perancis. Dalam program bulu tangkis, terdapat dua bentuk kegiatan. Pertama adalah Badminton for Fun, yang ditujukan untuk menumbuhkan rasa percaya diri anak-anak sekaligus menjadi media edukasi melalui olahraga. Orientasi program ini bukan untuk mencetak atlet, melainkan memberikan wadah positif agar anak-anak terbiasa berolahraga, membangun kepercayaan diri, serta terhindar dari kegiatan yang tidak bermanfaat.

Program kedua adalah Ultimate, yaitu program reguler yang berorientasi pada pembinaan atlet. Melalui program ini, Yayasan Bintang Kidul mendorong anak-anak binaan untuk menekuni bulu tangkis secara serius dengan mengikuti berbagai turnamen resmi yang diselenggarakan Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI). “Jadi, kita ikut sertakan ke turnamen-turnamen yang diselenggarakan oleh PBSI, termasuk turnamen yang paling besar namanya Sirnas (Sirkuit Nasional), kita ikutkan atlet-atlet kita, anak-anak kita, Yayasan Bintang Kidul untuk ikut serta,” kata Ipung. Sejauh ini, sejumlah prestasi telah diraih, di antaranya juara pada Kejuaraan Daerah (Kejurda) di Yogyakarta dan Sumatera Barat. Pada tingkat nasional, meskipun belum meraih gelar juara, para atlet binaan sudah mampu menembus hingga delapan besar dalam turnamen resmi.

Tawarkan beberapa pembelajaran bahas asing

Yayasan Bintang Kidul. Kegiatan pembelajaran bahasa Asing.

Yayasan Bintang Kidul. Kegiatan pembelajaran bahasa Asing.(Instagram/bintangkidul)

Di luar bidang olahraga, Yayasan Bintang Kidul juga menyelenggarakan kegiatan sepulang sekolah yang mencakup pembelajaran akademik, kesenian, dan literasi. Bidang kesenian meliputi tari dan musik, sedangkan di bidang akademik tersedia program bahasa Inggris, bahasa Jawa, dan bahasa Perancis. Selain itu, terdapat pula bimbingan PR, membaca, menulis, hingga kelas khusus bagi anak-anak dengan keterbatasan atau kesulitan belajar. Dalam pelaksanaannya, yayasan ini juga melibatkan relawan, termasuk satu pengajar asal Perancis. “Kalau yang dari relawan, sampai saat ini ada satu relawan yang memang dia dari Perancis, yang sudah tinggal di Indonesia cukup lama, namanya Ibu Christine,” ucap dia. Selain itu, Yayasan Bintang Kidul memiliki kegiatan reguler yang berlangsung hampir setiap hari.

Pada hari Selasa dan Kamis diadakan kelas bahasa, sedangkan hari Rabu dan Jumat diisi dengan kegiatan literasi, seperti membaca, diskusi, dan debat. Khusus hari Jumat, selain literasi, anak-anak juga mengikuti kegiatan olahraga, sehingga dalam satu hari bisa berlangsung lebih dari satu aktivitas. Di luar kegiatan internal, setiap hari Minggu anak-anak juga terlibat dalam aktivitas komunitas Trash Hero Yogyakarta. Meskipun bukan bagian dari yayasan, kerja sama ini memberi ruang bagi anak-anak untuk belajar peduli lingkungan dan bekerja bersama komunitas lain. Ada juga kegiatan Forwar (Forum Warga), yaitu forum evaluasi mingguan yang dikelola sepenuhnya oleh anak-anak setiap hari Senin. Melalui forum ini, seluruh kegiatan yayasan diorganisasi secara mandiri, dari anak-anak, untuk anak-anak, dan oleh anak-anak sendiri.

Ada 11 anak di Yayasan Bintang Kidul

Di Yayasan Bintang Kidul, terdapat program khusus bagi anak-anak dari berbagai daerah yang difasilitasi untuk melanjutkan pendidikan di Yogyakarta. Saat ini, jumlahnya sekitar 11 anak, mulai dari tingkat SMP, SMA, hingga perguruan tinggi, bahkan ada yang sudah bekerja. Menurut Ipung, program ini ditujukan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu yang memiliki semangat untuk meraih cita-cita melalui pendidikan. Namun, karena keterbatasan, yayasan tidak membuka rekrutmen secara umum, melainkan menjaring calon peserta melalui jaringan dan kerja sama yang telah terbangun. “Jadi, misalnya kita punya jaringan A, yang kemudian dari jaringan A itu dia menawarkan, ‘ini ada anak yang layak untuk dibantu’ gitu, nanti kita akan cek, kita akan observasi, kalau ternyata sesuai dengan kriteria nanti akan jadi anak beasiswa Bintang Kidul,” terang dia.

Dengan adanya program Yayasan Bintang Kidul, Ipung mengeklaim anak-anak kini memiliki kegiatan positif sepulang sekolah. Orangtua pun merasa lebih tenang karena anak-anak mereka terpantau mengikuti latihan bulu tangkis pada jam-jam tertentu, sehingga terhindar dari aktivitas yang tidak bermanfaat. “Kalau yang di Bekasi, sangat terasa, karena yang di Bekasi itu khusus untuk anak-anak lapak, anak-anak pemulung. Di program ini, khusus anak Bekasi juga kami pertemukan dengan komunitas-komunitas di luar lapak,” kata dia. “Terutama kami pertemukan dengan atlet-atlet nasional, kemudian atlet dari luar negeri juga. Dari situ anak-anak menjadi lebih percaya diri,” tambahnya.

Dari Yayasan Bintang Kidul menembus Eropa

Rayendra Pratama Putra (20) saat berkesempatan melatih bulu tangkis di Eropa.

Rayendra Pratama Putra (20) saat berkesempatan melatih bulu tangkis di Eropa.()

Rayendra Pratama Putra (20) mengatakan, ia mendapatkan banyak manfaat dari program-program Yayasan Bintang Kidul. Ia merupakan anak binaan asal Bekasi yang pindah ke Yogyakarta untuk difasilitasi seluruh kebutuhannya oleh yayasan.  Saat ini, ia tengah menempuh studi di Universitas Negeri Yogyakarta, jurusan Pendidikan Kepelatihan Olahraga. Di sela perkuliahan, Rayendra juga melatih bulu tangkis di salah satu klub di Yogyakarta. “Manfaat yang paling saya rasakan justru ada pada soft skills, seperti kemampuan berkomunikasi dengan banyak orang dan tumbuhnya rasa percaya diri,” ujarnya saat dihubungi secara terpisah, Minggu (17/8/2025). Sebagai atlet profesional binaan Yayasan Bintang Kidul, ia sering mengikuti berbagai kejuaraan, mulai dari tingkat kabupaten, provinsi, hingga nasional. Ia pernah meraih juara di tingkat Kabupaten Bantul pada ajang Bantul Series 2023 dan Kejuaraan Kabupaten Bantul 2024.  Di tingkat provinsi dan nasional, pencapaian terbaiknya adalah masuk delapan besar.

Rayendra menambahkan, meskipun pernah meniti karier sebagai atlet profesional, kini ia lebih berfokus untuk menjadi pelatih bulu tangkis. Beberapa waktu lalu, ia berkesempatan melatih di Eropa selama kurang lebih satu bulan di dua negara, yakni Swedia dan Perancis.  Seluruh fasilitas, mulai dari tiket pesawat hingga kebutuhan lainnya, ditanggung oleh Yayasan Bintang Kidul. “Itu adalah pengalaman terbaik dalam hidup saya. Saya bisa belajar langsung dari pelatih dan atlet di Eropa, sekaligus mengenal budaya di sana,” katanya. Menurutnya, dukungan Yayasan Bintang Kidul sangat besar dalam mendorong anak-anak binaannya untuk berkembang, bahkan hingga menjadi atlet profesional. Yayasan Bintang Kidul juga tidak berjalan sendirian. Mereka memiliki mitra, yakni Solibad, sebuah yayasan asal Perancis.  Di Indonesia, Yayasan Bintang Kidul dan Solibad berkolaborasi membangun tempat latihan bulu tangkis untuk mendukung anak-anak muda yang kurang mampu namun memiliki semangat tinggi. Saat ini, terdapat sekitar delapan klub bulu tangkis binaan di Indonesia, tiga di antaranya berada di Bantul, Yogyakarta.

Dapat beasiswa sekolah hingga kuliah

Mohammad Dicky Darmawan (21), anak binaan asal Pati, Jawa Tengah, merupakan salah satu penerima beasiswa dari Yayasan Bintang Kidul.

Kepada Kompas.com, Dicky mengatakan mengaku telah mendapatkan beasiswa penuh sejak jenjang SMK setelah bergabung dengan yayasan pada 2019.  Setelah lulus SMK pada 2022, ia melanjutkan studi di Universitas Amikom Yogyakarta, jurusan D3 Manajemen Informatika, dan dijadwalkan akan diwisuda pada Oktober tahun ini. “Tentu sudah banyak sekali manfaat yang saya dapatkan sejak bergabung dengan Yayasan Bintang Kidul. Yang paling utama adalah dukungan pendidikan. Melalui beasiswa ini, saya bisa lebih fokus belajar tanpa harus terlalu memikirkan kendala finansial,” ujarnya.

Menurutnya, Yayasan Bintang Kidul tidak hanya membantu dari sisi materi, tetapi juga menyediakan ruang untuk tumbuh dan berkembang secara pribadi.  Berbagai kegiatan, seperti bimbingan belajar, diskusi mingguan, hingga program kolaborasi dengan pihak eksternal, mendorongnya untuk terus mengasah diri.“Dari kegiatan-kegiatan itu, saya belajar banyak hal baru, mulai dari problem solving, kemampuan komunikasi, hingga cara bekerja sama dalam tim,” jelas dia. “Yayasan Bintang Kidul sudah menjadi keluarga kedua bagi saya. Semua orang di sini saling mendukung, berbagi, dan menginspirasi satu sama lain,” tambahnya.

Sumber: https://www.kompas.com/tren/read/2025/08/19/070000865/yayasan-bintang-kidul-menyulut-asa-anak-anak-kurang-mampu-meraih-harapan.
Tim Redaksi Kompas.com: Alicia Diahwahyuningtyas (Penulis), Ahmad Naufal Dzulfaroh (Editor)

]]>
https://id.yayasanbintangkidul.or.id/2025/12/30/yayasan-bintang-kidul-menyusut-asa-anak-anak-kurang-mampu-meraih-harapan-hingga-ke-eropa/feed/ 0
Some Youth Live Far From Bekasi to Pursue Higher Education Whilst Others Already Work https://id.yayasanbintangkidul.or.id/2019/07/09/some-kids-live-out-of-bekasi-try-higher-education-and-work/ https://id.yayasanbintangkidul.or.id/2019/07/09/some-kids-live-out-of-bekasi-try-higher-education-and-work/#respond Tue, 09 Jul 2019 04:24:49 +0000 http://yayasanbintangkidul.or.id/?p=1762

There is a badminton team consisting of children living in a garbage dump or around and close to the area, in Bekasi. It is almost five years the Bintang Solibad Indonesia Club started and, by now, some youth live away from their original place, as a result of their badminton training.

Novia Rahmawati san (20) practices for 6 hours a day, in Yogyakarta. She was also a member of Bekasi’s team. Currently, she is part of the professional team near the headquarter of Yayasan Bintang Kidul which is the organization that supports the teams. In addition to domestic competitions, she joined an international tournament in Malaysia too, which is the first time to play overseas for her. According to Yayasan Bintang Kidul, she was also invited to train with the Indonesian national team, whilst over there.

The headquarter has facilities where the youth practice intensively, but for children from Bekasi, it means they need to live and to train away from home. Even if some have good skills and get selected to join the team, there are some cases where parents do not have the understanding of the given opportunity, whilst sometimes the teenagers themselves do not accept changes from their poor environment.

The youth who play badminton do no only become professional athletes. They can also develop and build their future through other various ways. With support from Yayasan Bintang Kidul, Nata san (18) works at “Decathlon” store in Jakarta; it will be one year he started working, in August. Following Nata san, also Sandi san, who is also a young garbage collector, is trying to join the Sports retailing company.

Nia san (21) entered university in Yogyakarta and is studying in the Faculty of Psychology. There are also other children who leave Bekasi with the opportunity to go to university or high school with a full scholarship.

Interact with World Players

In 2016, Atlanta Olympic gold medallist and legendary Indonesian badminton player “Rexy Mainaky” visited the team. He played and practiced with the children, visited the Garbage dump, talked to the children’s parents, and talked about his own life. Recently, during Daihatsu Indonesian Masters, which is a world badminton tournament held in January, they watched some matches and also met with Indonesian Mix Doubles player “Debby Susanto” who retired during this tournament. Like this, they have opportunities to meet world-class players, thanks to a non-profit organization called “Solibad (Headquarter-France)” which is supporting them together with Yayasan Bintang Kidul. The name of Solibad comes from the words solidarity and badminton. Established in December 2009, currently they have projects in 10 countries around the world, many world-famous players have become goodwill ambassadors and donate to the association. In Japan, women’s singles player Nozomi  Okuhara, in Indonesia, one of the top women’s doubles player, Greysia Polii and also Debby Susanto are goodwill ambassadors. Other famous players donate 1% from their income. Anyone can join in the 1% donation project.

The reason of this, because of non-profit organization called “Solibad (Headquarter-France)” which is supporting them with Yayasan Bintang Kidul. Name of Solibad is come from the words solidarity and badminton. Established in December 2009, currently they have projects in 10 countries around the world, the world’s famous players have become goodwill ambassadors, donate. In Japan, women’s singles player Nozomi Okuhara, in Indonesia, one of the top women’s doubles player in here, Greysia Polii and also Debby Susanto are goodwill ambassadors. Other famous players donate 1% from their income. this 1% donation can join anyone.

The activities of Solibad (www.solibad.net/) and the Yayasan Bintang Kidul (yayasanbintangkidul.or.id/) can be found on the web.

Children can chase their dream through team activities, or some people can find what they want to do in the future by playing badminton. The eyes of the children chasing the shuttlecocks were shining.

This article came from Jakarta Shimbun and translated by Uemura Natsumi

]]>
https://id.yayasanbintangkidul.or.id/2019/07/09/some-kids-live-out-of-bekasi-try-higher-education-and-work/feed/ 0
Expand your Possibilities by Playing Badminton: The Boy who Wants to be Like Antoni Ginting https://id.yayasanbintangkidul.or.id/2019/07/09/expand-the-possibilities-by-playing-badminton/ https://id.yayasanbintangkidul.or.id/2019/07/09/expand-the-possibilities-by-playing-badminton/#respond Tue, 09 Jul 2019 02:49:42 +0000 http://yayasanbintangkidul.or.id/?p=1756 Bekasi City, West Java, June 2019

Anak-anak bekerja keras di gimnasium kecil dekat gunung sampah.

“In the future, I want to be like a Ginting (Indonesian national man single champion)… “. There is a Badminton team in Bekasi, for children who are living in a garbage dump or around and near the area. It’s been almost five years the team started. Through competitions, practicing with teammates, seeing professional players and so on, the Children’s possibilities expand.

The team’s name is Sepuluh Bintang (10 stars). At present, 34 members from 9 to 17 years old take part in the program. They practice at the badminton hall near the garbage dump, few times a week with the coach. More than half of the members live in the garbage dump in Bintara Jaya, West Bekasi district and many of their families make a living by collecting garbage. Some children do not attend school.

Drop out of elementary school
“I want to help my parents.” Komarudin san (14) said. Since he dropped out of Elementary School, he has not been in school. He works to pick up and collect garbage then sells them to vendors as his parents do. However, only a small amount of money can be obtained. According to them, even if 1 kg of plastic waste is collected, it will sell for Rp 5,000, and for 1 L plastic bottles it is Rp 4,000, and only Rp 1,500 for 1 kg of paper.

Nor Holik san (15) dropped out in the sixth grade of Elementary School, and, like his father, he is doing waste collection of a neighbourhood association (RT on Indonesian language).  He works in the morning a few times a week. Although he received an elementary school graduate qualification as a recommendation from the foundation who supports the team, he didn’t go to Junior High School. “I don’t talk about school with my parents,” and he didn’t talk much about school.

Mawar Angelina san (40), who lives nearby and helps the team’s activities, said, “For children living in a garbage dump, it is common for them to do the same job as their parents. also some parents want them to earn money by collecting  garbage instead of studying. ” She explains the situation like this.

To create opportunities for those children to expand to other environments than garbage dump and this area, “A non-profit organization called “Solibad (Headquarters in France) which is conducting badminton charity activities, has projects in 10 countries now worldwide, and Yayasan (Foundation) Bintang Kidul in Yogyakarta works together with Solibad and built the team. They built the badminton club “Bintang Solibad Indonesia” and currently it has 10 teams including Sepuluh Bintang in Bekasi and Sepuluh Bintang is the first team they made. Also this club is registered by the Indonesian Badminton Association (PBSI) and they join tournaments too, at every level of competition, including the National Circuit.

Learning respecting, appreciating

Komarudin san and Holik san have joined the team since few years ago and have attended the practice class that is held few times a week. At the badminton hall, it was impressive to see them chasing the shuttlecock with so much enthusiasm. Komarudin said, “I learned the greetings and the feeling of respect for the other person” through being part of the team, society and practicing badminton, and Holik san said ” I learned the feeling of gratitude.” When I asked about dreams in the future, they smiled saying, “I want to be an athlete like Ginting (Indonesian national man single player)”.

After the practice, in addition to having meals, there is also a day when there is a teacher who teaches study in the meantime. 

There is no cost for joining this team
Raphael Sachetat san (47) who is the President and founder of Solibad said “ First of all, we want to help them build up their confidence, let them realize they can be someone. Badminton is just an excuse to realize that there is more than their environment and that they can think outside the box.” . 

 

This article came from Jakarta Shimbun and translated by Uemura Natsumi

]]>
https://id.yayasanbintangkidul.or.id/2019/07/09/expand-the-possibilities-by-playing-badminton/feed/ 0
Kedubes Prancis Bantu Pendidikan Anak Indonesia https://id.yayasanbintangkidul.or.id/2019/07/02/kedubes-prancis-bantu-pendidikan-anak-indonesia/ https://id.yayasanbintangkidul.or.id/2019/07/02/kedubes-prancis-bantu-pendidikan-anak-indonesia/#respond Tue, 02 Jul 2019 03:28:42 +0000 http://yayasanbintangkidul.or.id/?p=1752 Artikel ini adalah artikel dari website Republika.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kedutaan Besar Prancis bekerja sama dengan Institute Francais Indonesie (IFI) menggelar acara penggalangan dana “Diplomasi Solidaritas” untuk mendukung pendidikan anak Indonesia di.

Duta Besar Prancis untuk Indonesia dan Timor Leste Jean-Charles Berthonnet mengatakan acara penggalangan dana dilakukan untuk membantu pengembangan pendidikan bagi generasi muda Indonesia.

“Diplomasi Solidaritas digelar untuk mendukung komunitas yang bergerak di bidang pendidikan bagi generasi muda. Bentuk dukungan tersebut diwujudkan melalui kesenian dan olahraga yang di dalamnya mengandung nilai-nilai toleransi, kesetaraan, solidaritas dan rasa saling menghormati,” kata Berthonnet di Jakarta, Ahad (9/7).

Dana yang dihimpun dari acara Diplomasi Solidaritas nantinya akan disalurkan ke sejumlah yayasan yang bergerak di bidang pendidikan anak, di antaranya Yayasan Bintang Kidul, Yayasan Musik Sastra Indonesia (YMSI), LP4Y-Atmabrata dan Pour les Enfants de la Rue (PER).

Atase Pers Kedubes Prancis untuk Indonesia, Dwi Setyowati mengatakan acara penggalangan dana dibantu oleh toko alat olahraga Decathlon melalui penjualan sejumlah perlengkapan kebugaran seperti raket tenis, handuk mikrofiber dan alat olah raga lainnya. Selain perlengkapan olahraga, donasi juga dihimpun dari penjualan sejumlah buku berbahasa Prancis dan Indonesia.

“Acara Diplomasi Solidaritas yang bertepatan dengan kegiatan bebas mobil (Car Free Day) ini dimeriahkan dengan ragam kegiatan olahraga seperti basket, badminton dan tenis meja, juga pertunjukan dari teater boneka raksasa asal Prancis, Les Grandes Personnes yang berpawai di sekitar jalan Thamrin-Sudirman,” kata Dwi.

Sebanyak empat boneka raksasa dari kelompok teater asal Prancis Les Grandes Personnes terlihat berpawai dan menari bersama warga Jakarta yang tengah berolahraga dalam kegiatan Car Free Day. “Acara penggalangan dana Diplomatie Solidaire ini baru pertama dijalankan dan kami berharap dapat diselenggarakan rutin tiap tahun,” kata Dwi.

 

Link Republika artikel tersebut: https://bit.ly/326tL7q

 

]]>
https://id.yayasanbintangkidul.or.id/2019/07/02/kedubes-prancis-bantu-pendidikan-anak-indonesia/feed/ 0
Pencapaian Beasiswa: Sejauh Ini https://id.yayasanbintangkidul.or.id/2019/06/23/pencapaian-beasiswa-sejauh-ini/ https://id.yayasanbintangkidul.or.id/2019/06/23/pencapaian-beasiswa-sejauh-ini/#respond Sun, 23 Jun 2019 05:48:58 +0000 http://yayasanbintangkidul.or.id/?p=1737

Bintang Kidul memberikan beasiswa kepada beberapa anak yang tidak mampu dan berkebutuhan khusus. Anak-anak tersebut adalah:

  1. Sarinah
  2. Sari
  3. Karlina
  4. Diki
  5. Nia
  6. Ikbal
  7. Syafa’atun
  8. Sa’adah
  9. Jeremi
  10. Sandi
  11. Nuroh
  12. Ika
  13. Grace

Anak-anak tersebut mengalami banyak kemajuan selama program beasiswa ini berjalan. Berikut ini foto para penerima beasiswa dan pencapaian mereka sejauh ini:

 

Beasiswa Bintang Kidul

 

]]>
https://id.yayasanbintangkidul.or.id/2019/06/23/pencapaian-beasiswa-sejauh-ini/feed/ 0
Pertandingan Persahabatan dengan P. B. Panggungharjo https://id.yayasanbintangkidul.or.id/2019/05/16/pertandingan-persahabatan-dengan-p-b-panggungharjo/ https://id.yayasanbintangkidul.or.id/2019/05/16/pertandingan-persahabatan-dengan-p-b-panggungharjo/#respond Thu, 16 May 2019 04:08:47 +0000 http://yayasanbintangkidul.or.id/?p=1734 Bintang Solibad Indonesia, Bintang Kali, dan Bintang Watu Gilang melakukan pertandingan persahabatan dengan P. B. Panggungharjo.

Pertandingan itu dilakukan pada tanggal 5 Mei 2019. Berikut beberapa galeri foto dari pertandingan persahabatan itu:

https://www.flickr.com/photos/bintangkidul/albums/72157708605563184
]]>
https://id.yayasanbintangkidul.or.id/2019/05/16/pertandingan-persahabatan-dengan-p-b-panggungharjo/feed/ 0
Défis en Indonésie https://id.yayasanbintangkidul.or.id/2019/04/23/defis-en-indonesie/ https://id.yayasanbintangkidul.or.id/2019/04/23/defis-en-indonesie/#respond Tue, 23 Apr 2019 04:26:21 +0000 http://yayasanbintangkidul.or.id/?p=1732
https://www.youtube.com/watch?v=Qf7b9RqSXBo
Dokumentasi video dari 4 ou pas cap, mengenai Indonesia dan Bintang Kidul
]]>
https://id.yayasanbintangkidul.or.id/2019/04/23/defis-en-indonesie/feed/ 0
Tim Ultimate https://id.yayasanbintangkidul.or.id/2019/04/04/tim-ultimate/ https://id.yayasanbintangkidul.or.id/2019/04/04/tim-ultimate/#respond Thu, 04 Apr 2019 03:52:45 +0000 http://yayasanbintangkidul.or.id/?p=1670 Tim Ultimate adalah tim pemusatan latihan badminton yang dimiliki Bintang Kidul. Tim ini terdiri dari 5 anak pilihan dari beberapa klub badminton binaan kami.

Kelima anak tersebut melakukan pemusatan latihan di bawah kepelatihan coach Eny Oktaviany.

Program pemusatan latihan tim ultimate sudah berjalan selama 8 bulan. Harapan utama program pemusatan latihan adalah terbentuknya atlet-atlet badminton tingkat nasional dari Bintang Kidul.

Berikut beberapa foto tim ultimate:

https://www.flickr.com/photos/bintangkidul/sets/72157677548897037
]]>
https://id.yayasanbintangkidul.or.id/2019/04/04/tim-ultimate/feed/ 0
International Angklung Days 2018 https://id.yayasanbintangkidul.or.id/2018/11/21/international-angklung-days-2018/ https://id.yayasanbintangkidul.or.id/2018/11/21/international-angklung-days-2018/#respond Wed, 21 Nov 2018 05:19:04 +0000 http://yayasanbintangkidul.or.id/?p=1661 Dalam rangka peringatan hari angklung sedunia, Bintang Kidul bekerja-sama dengan berbagai pihak mengadakan acara ‘Angklung Days’. Acara tersebut diadakan di Setren Opak, sebuah area yang dekat dengan Bintang Opak. Angklung Days diadakan pada tanggal 18 November 2018

Berikut beberapa dokumentasi pementasan acara Angklung Days di Setren Opak:

Angklung Days

 

]]>
https://id.yayasanbintangkidul.or.id/2018/11/21/international-angklung-days-2018/feed/ 0
Solibad et rencontres https://id.yayasanbintangkidul.or.id/2018/10/18/solibad-et-rencontres/ https://id.yayasanbintangkidul.or.id/2018/10/18/solibad-et-rencontres/#respond Thu, 18 Oct 2018 07:49:43 +0000 http://yayasanbintangkidul.or.id/?p=1623 Red: Artikel ini pertama kali dimuat di website ini

Premier réveil à Yogjakarka et après un bon petit déjeuner, nous commençons la journée par la visite d’un marché traditionnel dans le quartier du Sultan pour acheter quelques fruits et quelques gâteaux typiques indonésiens. Malheureusement, cette première étape se termine par le rapatriement de deux jeunes à l’hôtel : la première « turista » a frappé !

La journée continue par la visite d’un petit village où vivent les jeunes du projet Bintang de Yogyakarta. Le projet a ici pour vocation d’offrir aux jeunes une scolarité pour qu’ils aient une ouverture d’esprit afin de ne tomber pas dans l’islam radical.

 

L’accueil est vraiment très chaleureux. Les jeunes avaient préparé plusieurs démonstrations : danses traditionnelles, chants traditionnels et mimes. Ils tentent ensuite de nous apprendre l’emballage de nourriture à l’aide de feuilles de palmier (l’élaboration est plus que compliquée : certains y arrivent, d’autre passent à la fabrication de décorations plus simples et d’autres préfèrent discuter avec les jeunes présents) avant de nous inviter à partager un repas traditionnel dans leur salon. Pour le dessert, ils nous invitent à passer en cuisine pour apprendre à réaliser les « pisang goreng » (bananes frites).

 

Après-midi « badminton » : nous retrouvons ces jeunes dans leur gymnase de 2 terrains avec un sol carrelé pour échanger quelques volants. Comme à Jakarta, nous commençons l’entraînement à la française puis leur entraîneur nous propose un exercice de « footwork ». La séance se termine par des matchs France vs Indo et des matchs mixtes.

 

Pour finir la journée, nous nous rendons au « Panca Wara » pour admirer le coucher de soleil sur la ville : magnifique ! Puis direction la piscine pour se rafraichir avant le repas et au lit pour une bonne nuit de sommeil.

 

 

 

 

 

]]>
https://id.yayasanbintangkidul.or.id/2018/10/18/solibad-et-rencontres/feed/ 0